Rabu, 10 Juli 2013

Fungsi Sungai Brantas Pada Masa Majapahit (2)


Tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Singhasa-ri atas penghinaan yang pernah diterima utusannya pada tahun 1289. Pasukan berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui Muara Kali Mas/sungai Brantas langsung menuju ke Daha. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan sukacita. Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina dan Raden Wijaya berhasil membinasakan 5.000 tentara Daha. Dengan kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di dalam benteng. Sore hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha, Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian ditawan oleh pasukan Cina.
Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan. Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. Bahkan ia berbalik memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, selebihnya melarikan dari keluar Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan Majapahit( marwati. 1984: 426).
Lokasi penting dalam melacak jalan menuju kota Majapahit pada abad ke-14. Desa Mentoro di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ini terletak di sebelah barat laut situs bekas kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, dengan jarak sekitar 10 kilometer. Pandangan langsung terpaku pada sebuah patok batu di tepi jalan desa, tepat di depan rumah keluarga Emha Ainun Nadjib. "Patok batu ini bekas tambatan perahu Majapahit," tutur seorang penduduk. Pada salah satu sisi patok setinggi 127 cm itu terpahat tulisan Jawa kuno yang belum terbaca. Bentuk patok pada bagian bawah berdenah segi empat, sedangkan bagian atas segi delapan. Bentuk patok ini berbeda dengan lingga semu yang juga ditemukan di Mentoro, tepatnya di Kuburan Dowo. Lingga semu berbentuk segi empat di bagian bawah dan bulat di bagian atas. Informasi pun berkembang. Sekitar 100 meter di sebelah barat patok batu ditemukan lagi patok sejenis di tepi jalan. Menurut penduduk, dulunya patok kedua itu berada di tengah jalan desa, tetapi patok telah patah ditabrak pedati saat pengerasan jalan desa. Sebuah patok lagi dijumpai di halaman rumah penduduk sehingga sedikitnya terdapat tiga patok batu di Mentoro.

Melihat letaknya, Mentoro dahulu masuk daerah pinggiran kota Majapahit yang memiliki akses ke Sungai Brantas di bagian utara. Menurut cerita penduduk, dulu Mentoro adalah hutan belantara yang menjadi jalan penghubung antara Kerajaan Majapahit dan Kota Daha (Kadiri). Mentoro dipercaya pula sebagai tempat pesanggrahan putra-putri kerajaan pada masa itu.  Pada bagian timur laut, tenggara, dan barat daya dari situs bekas kota Majapahit, terdapat kompleks bangunan suci bersifat Hindu. Setiap kompleks bangunan di penjuru mata angin itu ditempatkan sebuah yoni kerajaan dengan cerat berhias rajanaga.


                              

            Gambar 2. Peta DAS Sungai Brantas masa Majapahit

Kompleks bangunan suci di bagian timur laut diidentifikasi adalah situs Klinterejo (Kecamatan Sooko, Mojokerto), di tenggara situs Lebakjabung (Kecamatan Jatirejo, Mojokerto), sedangkan di bagian barat daya adalah situs Sedah (Kecamatan Mojowarno, Jombang). Jarak antara situs Klinterejo dan situs Lebakjabung di bagian selatannya adalah 11 kilometer, sedangkan jarak dari situs Lebakjabung ke situs Sedah di bagian baratnya adalah 9 kilometer. Berdasarkan jarak antarsitus tersebut diperkirakan batas situs kota Majapahit 11 x 9 kilometer, tanpa dibatasi tembok keliling. Berdasarkan jarak itu pula, kompleks bangunan di bagian barat laut diperkirakan terdapat di wilayah Kecamatan Sumobito, Jombang, tepatnya di Dusun Tugu dan Dusun Badas (Kompas, 2 Mei 2005). Di lokasi ini tersebar beberapa struktur bata, sebuah yoni polos, batu-batu candi, lumpang batu, dan dua patok batu, sejenis dengan patok-patok di Mentoro. Lokasi Mentoro di sebelah utara Dusun Tugu dipisahkan oleh sudetan Sungai Konto yang dibuat Belanda pada tahun 1914. Apabila cerita penduduk Mentoro benar bahwa patok-patok batu itu dulunya tambatan perahu Majapahit, hal itu membuat arkeolog harus berpikir yang sama terhadap patok-patok batu di situs Tugu. Sebaran patok batu dari Mentoro ke Tugu memanjang utara-selatan, membentuk imajinasi patok-patok itu diletakkan pada kedua sisi sungai yang relatif lebar. Sungai yang memanjang utara-selatan dan bertemu dengan Sungai Brantas bila dirunut ke utara. Imajinasi itulah yang menggerakkan penggalian arkeologis di Mentoro pada tahun 2005 oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dengan ketua tim Nurhadi Rangkuti. Selain mencari sungai yang hilang, penggalian juga bertujuan untuk mengetahui permukiman kuno di tepi sungai.
Hasil penggalian mengubah imajinasi menjadi kenyataan. Penggalian di dekat patok batu di depan rumah keluarga Emha dipenuhi oleh pasir dan kerang sungai dan kotak gali mengeluarkan air pada kedalaman satu meter, padahal sedang musim kemarau. Beberapa kotak gali lainnya juga membuktikan hal yang sama. Beberapa penduduk pun lalu berbagi cerita, sering mendengar suara air dari bawah lantai rumah mereka. Sisa-sisa permukiman kuno di tepi sungai juga berhasil ditemukan dalam penggalian. Sebuah tempat lebih tinggi, yang oleh penduduk disebut Kagenengan, digali dan menghasilkan lebih dari 1.500 fragmen tembikar dan keramik dari dalam tanah. Selain itu ditemukan pula mata uang logam China, fragmen besi, dan tulang serta gigi hewan jenis bovidae. Bentuk dan kualitas benda-benda tembikar dan keramik di lokasi ini tidak berbeda dengan temuan-temuan dari situs Trowulan. Diperkirakan Kagenengan pernah dihuni oleh komunitas yang bukan dari golongan rakyat biasa, pada sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15. Sungai lama dan sisa permukiman kuno telah berhasil ditemukan, tetapi di antara anggota tim masih terjadi silang pendapat mengenai keberadaan patok batu. Apakah patok batu dulu memang berfungsi sebagai tambatan perahu atau sebagai tugu batas suatu wilayah atau desa pada masa Majapahit.
Lokasi Mentoro dan Tugu memang sangat strategis jika dikaitkan dengan Sungai Brantas dan jalan masuk kota Majapahit dari arah barat laut. Kedua tempat itu menjadi titik simpul jalan darat dan sungai menuju kota Majapahit. isi naskah Kidung Wargasari, yang menggambarkan rute dari Wewetih sampai ke Majapahit melalui Jirah, Bletik, Kamal Pandak, dan Sagada. Menurut Hadi, rute yang digambarkan dalam kidung tersebut dapat dilacak dari barat ke timur melalui Kabupaten Jombang. mengidentifikasi Sagada adalah Segodorejo yang terletak di Kecamatan Sumobito. Lokasi situs Segodorejo berada di sebelah timur Tugu dengan jarak sekitar satu kilometer. Di situs ini dijumpai tinggalan arkeologis berupa lumpang batu dan pecahan-pecahan bata. Sungai Brantas memang tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan Majapahit. Sungai ini memiliki andil dalam mengembangkan ekonomi Majapahit, sampai-sampai Raja Hayam Wuruk pun menerbitkan sebuah prasasti berangka tahun 1358 tentang desa-desa penyeberangan dan pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Dalam prasasti itu tercatat 33 desa penyeberangan di tepi Bengawan Solo dan 44 desa di tepi Brantas. Dengan mempertimbangkan keberadaan Mentoro dan Tugu pada masa Majapahit, perjalanan menuju kota Majapahit dari Sungai Brantas dapat direkonstruksi. Setelah melayari Sungai Brantas, kemudian perahu memasuki Sungai Watudakon terus ke selatan melewati Mentoro, Tugu, dan Badas. Selanjutnya, dari Badas menuju kota Majapahit ditempuh dengan transportasi darat melalui Sagada (Segodorejo) dan akhirnya masuk kota Majapahit yang letaknya di Trowulan sekarang.

Fungsi Sungai Brantas Pada Masa Majapahit (1)

Tiga daerah subur, yaitu Malang, Kediri, dan Mojokerto, seakan-akan "diciptakan" oleh Sungai Brantas sebagai pusat kedudukan suatu pemerintahan, sesuai dengan teori natural seats of power yang dicetuskan oleh pakar geopolitik, Sir Halford Mackinder, pada tahun 1919. Teori tersebut memang benar adanya karena kerajaan-kerajaan besar yang didirikan di Jawa Timur, seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Majapahit, semuanya beribukota di dekat daerah aliran Sungai Brantas. Jika saat ini Kediri dan Malang dapat dicapai melalui tiga jalan utama, yaitu melalui Mojosari, Ngantang, atau Blitar, maka tidak demikian dengan masa lalu. Dulu orang hanya mau memakai jalur melalui Mojosari atau Blitar jika ingin bepergian ke Kediri atau Malang. Hal ini disebabkan karena saat itu, jalur yang melewati Ngantang masih terlalu berbahaya untuk ditempuh, seperti yang pernah dikemukakan oleh J.K.J de Jonge dan M.L. van de Venter pada tahun 1909. Jalur utara yang melintasi Mojosari sebenarnya saat itu juga masih sulit dilintasi mengingat banyaknya daerah rawa di sekitar muara Sungai Porong. Di lokasi itu pula, Laskar Jayakatwang yang telah susah payah mengejar Raden Wijaya pada tahun 1292 gagal menangkapnya karena medan yang terlalu sulit. Oleh karena itulah, jalur yang melintasi Blitar lebih disukai orang karena lebih mudah dan aman untuk ditempuh, didukung oleh keadaan alamnya yang cukup landai.Pada zaman dulu (namun masih bertahan hingga sekarang), daerah Blitar merupakan daerah lintasan antara Dhoho (Kediri) dengan Tumapel (Malang) yang paling cepat dan mudah
 Lembah Sungai Brantas
Sungai Brantas Setelah mengalir 70 km ke arah barat, mulai dari derah Kepanjen, sungai ini memasuki bagian hilir tengah yang megalir ke arah barat kemudian munuju ke utara, melalui daerah Blitar, tulungagung Kediri dan Kertosono. Pada masa dulu hilir ini daerah daha( gelang-gelang). Selanjutnya adalah bagian  hilir bawah. Pada bagian   hilir bawah ini melewati Jombang, mojokerto, Surabaya dan porong. Pada bagian ini berdasarkan prasasti paradah 1( 934), tepatnya di desa watugaluh Jombang, diperkirakan ibukota Kerajaan Sindok yang tidak jauh dari tepi sungai Brantas. Mojokerto diperkirakan wilayah dan tepatnya daerah  kerajaan majapahit pada abad XIII-XV Ciri-ciri tanah di tanah yang terdapat di lebah sungai Brantas, akibat letusan gunung Berapi ( G Anjasmara, G Welirang, G. Wilis, G arjuno, G. Semeru) yang mengapit dari hulu hingga hilir hingga muaranya. Hal ini mengakibatkan dampak yang penting bagi pertanian. Pada dataran tinggi Malang masuk dalam golongan stadia (umur) muda, mengingat aliran sungai Brantas di daerah ini masih dekat dengan hulu sungai senhingga aliran airnya deras dan sengai Brantas di daerah ini cukup sempit dari pada dataaran rendah senhingga yang kemungkinan kecil sungai Brantas di daerah ini digunakan sebagai jalur lalu lintas. Menurut sejarah geologinya, dataran rendah lembah Sungai Brantas  dari Blitar sampai Mojokerto dulunya merupakan suatu teluk lautan yang  seamakin lama terisi oleh elfata gunung berapi yang mengapitnya teruatama G. Kelud ( Daldjoeni, 1984:76).  Dari dataran ini pula sungai berantas memasuki stadia dewasa ke stadia Tua, dengan ditandai semakin lebarrnya betangan sungai dan arus jeram semakin berkurang.

            Luapan sungai Brantas yang terjadi antara abad X sampai abad XV tidak banyak tercatat dalam sejarah, meskipun dalam prasasti di sebutkan ada pembungunan pengedalian sunagi Berantas. Luapan sungai Brantas terjadi pada masa Airlangga yang membawa  kerugian material bagi kerajaan Airlangga, yang maengalami kerusakan adalah tujuh daerah  pertanian yaitu  Lasun, Palinjiwan, Sijanatyesan, Panjigatin, dan Talan yang mengakibatkan kurangnya pajak Kerajaan. Selain itu iklim juga berpengaruh dalam penagganan sunagai Berantas.
            Manfaat Sungai Brantas
1.      Bidang pertanian : pertanian pada masa majaphit di lakukan dengan system lading dengan membuka  hutan seperluannya dan juga sistem persawahan untukmemenuhi air berasal dai air tadah hujan atau air sungai. Dalam kaitanya penerapanpan teknologi pengairang atau irigasi yang memanfaat Sungai Berantas di ceritakan dalam Prasasti Kamalagyan(1037), dengan jalan membuat tambak di wiringin saptas.
Peta Kawasan irigasi abad X-XV
Tambak yang dibagung diwaringin sapta tersebut merupakan tanggul atau sebagai pengontrol sungai Brantas ketika meluap, sekaligus sebagai Tandon air yang digunakan mengaliri  pertanian dan persawahan.
2.       Jalur sungai mempunyai peran yang tidak sedikit artinya baik untuk komunikasi maupun tranportasi pada masa lampau, sebelum ada kedaran bermotor seperi sekarang. Sungai Berantas menjadi saraan tranpotasi masyarakat jaman dahulu. Brantas adalah sungai terpajang kedua setelah Bengawan Solo. Muara sungai Brantas hujung Galuh atau Canggu yang sekaligus  dekat dengan kota pelabuhan seperi Tuban, Gresik, Sidayu Surabaya yang ramai dikunjungi  oleh pedagang dari luar Kerajaan Majapahit. Hujung galuh diperkirakan sekarang sekitar kampong Galuhan kec Bubutan Kodya Surabaya pada muara  Bratas(Kali Mas). Selain Ujung Galuh, maka Canggu yang juga pelabuhan alamiah di muara Sungai Brantas tidak kalah ramai dengan Ujung Galuh. Keneradaam Canggu dinyatkan dalam prasti Trowulan I(1358). Seluruh bagian –bagian bertalian dengan perniayagaan rempah-rempah ditarik ke Pulau Jawa diman terdapat system jarring ajlan darat dan Perairan yang berpusat di Delta Sungai Brantas, bahkan Delat Sungai brantas mendekati pusat Kerajaan palaing tidak samapai di daerah Japaran dan titik itu pusat kerajaan tinggal 8-10 km saja. Letak Canggu diperkirakan di desa Canggu sebelah utara Mojokerto sekarang, masalahnya sekarang bahwa Canggu berada di pedalaman, jauh dari muara sungai Brantas atau Jauh dari Pantai. Hal ini disebabkan oleh pegeseran palungnya dari abad ke abad, bahkan dari abad ke 3 terjadi ledokan kedung lidah dekat Gresik di sampan kenaikan tanah dan penurunan tanah di sekitar Brantas. Alur transportasi perdagangan dari kota-kota pelabuahan atau kota pesisir menuju daerah pedalaman( Hinter Land) yang merupakan penditribusian hasil-hasil produksi daerah pesisir menuju daerah pedalaman. Hasil pesisir seperti garam, ikan asin dan tawar.

PMII Fakultas Ilmu Sosial Univ Negeri Malang

 AL BIRUNI/PMII FAKULTAS ILMU SOSIAL
Al Biruni adalah Rayon PMII Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Awal terbetuknya berasal dari pertanggun jawaban/ Amanat Rapat Tahuhan Komisariat tahun 2009 yang mewajibkan PMII LIGA mendirikan rayon baru di Fakultas Ilmu Keolahragaan/FIK. Sedangkan syarat untuk mendirikan Rayon harus ada 10 anggota PMII di suatu Fakultas, dan inipermasalahnya karena FIK anggota PMII tidak memenuhi syarat maka gagal mendirikan Rayon baru. Pada tahun 2009 lahirlah Fakultas Baru yang bernama Fakultas Ilmu Sosial. Menurut Ketua Komisariat saat itu yakni Arif Rahman Hudaifi/ Cavalera (2009/2010) dan Bidang 2 Wakidi, maka perlu  adanya rayon baru di LIGA yakni dari FIS (menurut Pengakuan Cak CAVA ini sebagai bentuk pertanggun jawan atas gagal membentuk Rayon FIK maka FIS sebagai gantinya).
Proses Sosialisasi pun berjalan, Pro dan Kontra terjadi tidak dapat dihindarkan. Bagi yang Kontra buat apa membuat Rayon Baru kalau hanya untuk menganti kewajiban/amanat RTK. Bagi yang Pro dengan terbentuknya Rayon Baru maka sayap PMII akan semakin lebar dalam proses Kaderisasi terutam d Fakultas  Ilmu Sosial. Pada akhirnya semua paham ini adalah proses meyakinkan dan mempercayai satu sama lain.
Seingat saya pada Rapat Tahunan Rayon (RtaR) Maturidi saya berdebat dengan sahabat Fadjar Ahmad. Perdebatan adalah maukah kita dijadikan dalam satu rayon dan nama Rayon baru. Saya yang berasal dari Sejarah (masih maturidi/Sastra) menginginkan nama rayon Soekarno karena beliau adalah  Faouding Father Indonesia dengan jargon JasMerah (jangan sekali Melupakan Sejarah). Sedangkan sahabat Fadjar Ahmad yang kelak menjadi ketua Rayon Pertama ingin nama rayon Abu Nawas karena beliau seorang Sufi. Setelah berjam-jam berdialektika/berdiskusi tidak menemukan nama yang pas, toh pada saat itu hanya ingin menyatukan Visi dan Misi dalam mendirkan rayon baru. Menurut saya hal itu bagus karena kita dapat mengetauhi sejauh mana kita mempunyai semangat mendirikan rayon di FIS.
Setelah sosialisasi berjalan maka ada keputusan yang mengejutkan warga dilarang memilih d rayon masing-masing yakni warga sejarah di Maturidi (sastra), HKN di Ghozali (FIP) dan geografi di Ibnu Sina (MIPA). Pelarangan ini sebenarnya melanggar hak warga untuk memilih karena belum tentu ada Rayon FIS bahasa lebaynya masa depan suram. Dengan legowo dari 3 rayon harus melepaskan warga yang bersawl dari 3 jurusan ini, saya pun masih berat meninggalkan Maturidi karena saya d besarkan disana.    
Langkah awal dimulai dengan d bentuknya Panitia RTaR FIS  yang diketuai oleh sahabat Fadjar Ahmad yang dibantu oleh K Conks Senayan, Imam Syafii.....akhirnya dsepakati kita rapat pada tanggal 23 s/d 25 April 2010 di rumah bapak Shohib di daerah Soekarno Hatta dekat denga RRI Kota Malang. Hari pertama masih belum banyak yang datang (maklum masih belum ada rasa memiliki). Hal itu membuat Komisariat berfatwa bahwa rapat dapat dilanjutkan jika sudah ada 10 anggota  PMII FIS. Akhirnya trik Jemput menjemput dijalankan oleh panitia dan pengurus komisariat yang bertanggung jawab atas warganya. Pada akhirnya rapat dilanjutkan dengan pemilihan presidium Sidang dan yang terpilih adalah sahabati Uswatun Hasanah/ Uus ketua Rayon Ghozali  2010-2011, meskipun pemilihan ada intervensi sahabt Anisurahman (dulu ngicer sih ke sahabati Uus) biasa Romantika Pergerakan.
Hari kedua adalah hari yang menentukan karena pada hari ini d tentukan masa depan/rencana pembentukan Rayon baru. Setelah semua syarat terpenuhi maka semua anggota menyatakan setuju didirikan Rayon baru. Setelah itu penentuan nama Rayon yamg mana semua anggota FIS diberi kesempatan untuk mengusulkan nama dengan alasan yang jelas. Saya mengusulkan Soekarno, Fadjar Ahmad dengan Abu Nawas, Anisurahman dengan Ibnu Athoillah
, dan imam syafii dengan  Al Biruni. Pemaparan dan berbagai alasan pun di jelasakan pajang kali lebar. Akhirnya dengan mayawarah mufakat tanpa Voting Akhinya dipilihlah nama AL Biruni. Nama ini merupakan usulan dari Abah Kamilun imam Masjid Jami’ Kota Malang yang juga IKAPMII UM. Alasan di tetapkan AL Birun karena beliau merupakan Ulama ahli sejarah India, Negarawan dan pembuat peta pertama (geografi) jadi mewakili jurusan yang ada di FIS UM. Yang perlu dicatat adalah kelegowoan para sahabat dalam menentukan sebuah indentitas untuk masa depan.
Hari terakhir adalah pemilihan ketua Rayon al Biruni dimana calon ada 3 besar yakni Anis surahman, Imam Syafii dan Ahmad Fadjar.  Pada pemilihan ini terpilihlah Fadjar Ahmad sebagai ketua Rayon pertama Al Biruni dengan terpilihnya Beliau maka Era Baru Pergerakan  Fakultas Ilmu Sosial dengan Slogan THIS is BIRUNI......
 SELAMAT ULANG TAHUN AL BIRUNI YANG KE 4...I LOVE U FOREVER
# 25 APRIL 2013
     

Sepakbola Indonesia hingga Malang

Indonesia, sepakbola  dikenalkan oleh warga Belanda dari Eropa yang berkerja pada instansi-instansi pemerintahan Hindia Belanda. Pada mulanya, sepakbola dimainkan oleh orang-orang Barat, terutama Belanda. Dalam perkembangannya sepakbola dimainkan oleh kaum Tionghoa dengan mendirikan Chineese Voetbal Bond pada 6 januari 1924 yang bertujuan orang Tionghoa semakin bangga dengan dunia sepakbola dan memperkuat kedudukannya terhadap Belanda (Aji  2010: 72). Hal ini diikuti oleh Bumi Putera yang setara dengan bangsawan, dengan bergaulnya kalangan bangsawan Bumi Putera dengan olahraga sepakbola secara alami mereka menularkan ke kaum Bumi Putera kalangan bawah. Ketenaran sepakbola dengan cepat berkembang di Jawa. Klub sepakbola pertama yang muncul di Indonesia yaitu pada tahun 1894 didirikan oleh sekelompok orang Belanda dengan nama Road-Wit (Merah Putih) dua tahun kemudian berdirilah klub sepakbola di Surabaya yang bernama Victory (Palupi 2004: 26). Setelah itu muncul banyak klub-klub sepakbola di Jawa seperti lahirnya klub sepakbola  Persebaya Surabaya pada tahun 1927, Persija Jakarta  pada tahun 1928 .  Sampai pada akhirnya, Indonesia menjadi negara yang penduduknya gemar bermain bola. Pada zaman dahulu, tepatnya zaman Kolonial, sepakbola menjadi salah satu alat perjuangan untuk menimbulkan rasa nasionalisme di kalangan penduduk bumi putera. Pada tahun 1938 Piala Dunia diadakan di Prancis yang mana Indonesia dengan nama Netherland East Indies atau Hindia Belanda sebagai wakil satu-satunya dari benua Asia (Kusuma 2010: 32).
Setelah kemerdekaan, Soekarno menjadikan olahraga sebagai salah satu alat untuk mengenalkan Indonesia ke dunia internasional, bahwa Indonesia bukan hanya negara politik tetapi negara yang juga mengenal olahraga. Bahkan Soekarno berencana membuat olimpiade tandingan yang bernama GANEFO (Games of The New Emerging Forces) pada tahun 1963.  Soekarno sangat berambisi menjadikan Indonesia  macan Asia. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya kompleks olahraga Senayan termasuk stadion  sepakbola  terbesar di Asia pada tahun 1962 yaitu Stadion Utama atau Gelora Bung Karno yang digunakan untuk Asian Games 1962 (Natakusuma 2009: 69). Pada masa pemerintahan Soeharto sepakbola kurang mendapat perhatian yang lebih. Hal ini terlihat pada pembangunan stadion masa presiden Soeharto, tidak mengalami kemajuan dibandingkan dengan pembangunan  jalan tol dan gedung pemerintahan. Selain dari perspektif industri sepakbola, tentu konflik dalam dunia sepakbola  yang timbul juga tidak luput dari permasalah sosial dan budaya dalam sebuah masyarakat. Masalah hegemoni dan pengakuan akan ‘the one and the best’ juga menjadi salah satu permasalah konflik suporter Indonesia. Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam sebuah masyarakat juga tidak dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor pemicu konflik. Belum lagi soal dendam yang berasal dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Begitu banyak permasalahan yang timbul dalam masyarakat sehingga terbawa dalam kancah sepakbola  membuat stadion masih belum menjadi tempat yang nyaman dalam menikmati pertandingan sepakbola.
Kota Malang mempunyai tim sepakbola yang terlebih dahulu berlaga di level Nasional yaitu Persema (Persatuan Sepakbola  Malang) berdiri pada 20 Juni 1953 (Persema.co.id), tim Sepakbola milik Pemkot (pemerintah kota) Malang. Persema mendapat dukungan dana yang melimpah dari Pemerintah Kota Malang lewat APBD-nya, akan tetapi prestasi yang bergengsi di level nasional belum begitu menonjol. Persema kurang menonjol di pentas sepakbola nasional dibandingkan dengan  PS Arema dalam segi prestasi maupun pendukung atau suporter. Tidak hanya itu, hal yang menarik lainnya adalah Lucky Acub Zaenal dan menejemen PS Arema yang bisa mepertahankan klub PS Arema hingga dijual ke pihak yang berkotmitmen dan PS Arema tetap berada di Malang Raya. Hal ini yang menyebabkan penulis meneliti PS Arema sebagai klub swasta dengan prestasi dan pendukung PS Arema bertahan hingga sekarang.
PS (Persatuan Sepakbola) Arema adalah tim sepakbola yang berdiri tahun 1987 di Kota Malang dan juara era Galatama tahun  musim 1992-1993 (Mutholib, 2009: 63). PS Arema didirikan oleh H. Acub Zaenal bersama dengan anaknya yaitu Ir. Lucky Zaenal. Pada awalnya Arema adalah klub sepakbola swasta. Pada waktu Arema berdiri, Liga Indonesia dibedakan atas dua bagian: liga untuk klub semi-profesional yang bernama Galatama dan Liga Klub Perserikatan. Dalam hal pendanaan, klub-klub Perserikatan tergantung pada pemerintah daerah, sementara klub Galatama tergantung pada sponsor swasta. Arema mengikuti kompetisi Galatama pada tahun 1987 hingga Galatama dan Perserikatan dilebur menjadi satu pada tahun 1994 menjadi Liga Indonesia I.
Sumber : 
Aji, R. N. B. 2010. Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola . Yogyagkarta: Ombak
Muntholib, A. 2009. Arema Never Die. Malang: UMM Press
Natakusuma, A.2008. Drama itu Bernama Sepakbola. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Palupi,S A. 2004. Politik Sepakbola.Jakarta: Ombak

Kamis, 15 Desember 2011

Buku History Of Java (hal 75-93)



Pulau jawa sangat subur dari pada pulau lainya di nusantara di karenakan pulau jawa sangat banyak gunung berapi yang aktif. Bangsa Jawa adalah bangsa petani yang akhirnya memmbentuk sturktur masyarakat yang khas. Suatu propinsi dikatakan kaya jika hasil buminya melimpah karena kesuburan tanahnya. Ketika pemerintah ingin menarik upeti bukan dengan takaran rupiah atau golden akan tetapi berapa banyak padi atau hasil panen yang bias di setorkan, oleh karena itu penarik pajak sekaligus pengawas pertanian yang memastikan hasil panen masuk ke gudang penyimpanan. Seorang penguasa/raja biasanya memberikan upah kepada petugas pengawas dengan tanah bengkok atau tanah desa atau  tanah yang bisa disewakan.  Tanah yang diberikan sebgai dana pension bagi penbantu raja yang paling disukai,  Seperti yang dikatakan Sultan kapada seluruh perangkat pemerintahan, “ aku akan memberikan surat ini untk menghormati pembantuku, mebahagiakan dan menghormatinya, daia akan dianugerahi tanah seluas 11.000  beserta jumlah 1100 pekerjanya”. Dari penduduk perianngan yang berjumlah 243.268, yang berprofesi sebagai petani berjumlah 209.125. di daerah lain seperti Surabaya perbandinganya 32.618: 634, di Semarang 58.206 : 21.404; di Rembang 103.230 : 55.300. Di dearah lain jumlahnya bervariasi akan tetapi masih didominasi oleh penduduk yang berprofesi sebagai petani rata-rata perbandinganya 4:1 hal itu bebanding terbalik dengan di Inggris yaitu 1:3.
Kondisi tanah di Jawa yang subur ada juga yang belum digarap akan tetapi sebgaian besar sudah digarap digarap dengan baik. Petani hanya tinggal menjagadan merawat tanah sehingga menghasilkan panen yang melimpah akan tetapi hal ini belum mencukupi kebutuhan petani dikarenakan iit campurnya pemerintah yang dispotik atau kegiatan perampokan yang marak pada saat itu. Dengan iklim tropis Jawa memang sangat mendukung untuk kegiatan pertanian. Di daerah dataran tinggi mengahasilkan seperti kopi, teh, kelapa, tebu, dan kapas yang berkualitas tinggi. Selain itu di dataran tinggi pedalam petani juga dapat menanam tanam khas Eropa seperti jagung atau gandum dan lain-lain. Tidak lebih indah dari menguningnya  hamparan Padi hal itu dapat dilihat dari pantai timur Jawa, hingga tengah Jawa. Sebagian besar lahan yang terlantar adalah 7/8  di karenakan jarang penduduknya. Di pulau Jawa hanya ditunjang 1/8  tanah yang di manfaatkan, apabila semua dimanfaatkan mungking tidak ada yang bisa seperti di jawa yang menhasilkan pangan yang melimpah di karenakan tanah yang subur. Tanah yang subur petani di jawa hanya membutuhkan sedikit setuhan di bidang pertanian. Beras sebagai makanan pokok penduduk Jawa sehingga petani menanam Padi sebagai tanam yang utama.  Setiap hari petani dapat memperoleh 4-5 kati yang sama dengan ¼ liter , itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan dewasa. Tanaga perempuan tenaganya sama dengan laki-laki sehingga satu keluarga bisa memilki tenaga8-10 pekerja.
Harga beras hal sangat penting bagi petani Jawa akan tetapi harga beras setian daerah berbeda karenakan kesuburan tanah, jarak tempuh ke pasar atai ibukota propinsi. Sarana transportasi yang  masih tradisional mempengaruhi juga harga beras jiaka traspotasi mendukung maka kelebihan stok beras di suatu daerah dapat di salurkan daerah yang kurang stok berasnya sehingga harga beras dapat disamakna dengan daerah satu dengan daerah yang lain akan tetapi hal itu tidak terjadi pada masa itu. Di propinsi pribumi, satu pikul (seberat 1331/lbs Inggris) sering kali dijual kurang dari seperempat dollar, kadang 2 dollar spanyol.  Rata-rata harga 1 koyan  dari 30 pikul atau sekitar 3000 kati adalah 30 dolar Spanyol. Selain itu petani juga memiliki simpanan yang berupa sepasang kerbau sapi dan beberapa ekor unggas, tidak ada ternak yang di khususkan untuk dipotong atau diperah susunya. Pada tahun 1813 daerah yang di kuasai Inggris jumlah ternak tercatat sebanyak dua setengah juta ekot ternak, dan sekitar 5000 domba, 24000 ekor kambing. Jumlah kerbau tecatat 402.054 ekor, dan kerbau jantan 122.691 ekor. Kuada banyak dipelihara teruatam dikota besar jarang dipelihara di daerah pertanian.
    Kerbau adalah yang dipelihara petani karena patuh pada pemiliknya dan tidak suka pada orang asing. Di distrik Sunda dan daerah pegunungan biasanya ada 9-10 ekor yang warnanya putih . harga kerbau di distrik barat adalah 24 rupee untuk warna hitam, dan 20 rupee untuk warna putih. Diditrik timur bervariasi antara 12-16 rupee. Di Sunda kernua disebut munding dan di distri timur disebut maisa atau kebo. Sedang Sapi di distri Jawa tengah dan Timur di gunakan sebagai penarik untuk membajak sawah dan pengakut barang karena kuat.
Cara bertani orang di jawa berbeda dengan yang ada di Inggris. Di jawa alat ymag di gunakan seperti pachul, sabit/ arit, bajak para petani dijawa dibuat sederhana Karena tanah jawa sangat mudah untuk digarap.salah satu pemanen adalahs Ani-ani alat untuk memotong padi  saat panen. Lahan padi di bajak , digaru dan ditanami serta diairi oleh para lelaki, untuk menyiangi, memotong dan mengankut padi ke pasar sepenuhnya dilakukan oleh perempuan.seperti yang kita ketahui Indonesia mempunyai 2 musim yaitu kemarau dan hujan hal di krenakan Indonesia di lewati garis khatulistiwa. Jenis tanah di jawa ada dua yaitu tanah sawah yang biasanya ditanami padi karena tanah ini air sangat banyak sehingga tiadak akan kering, bisa kering ketika air tiadak d alirkan lagi. Jenis yang kedua adalah tanah tegal atau tanah gaga air berasal dari air hujan yang turun sehingga jarang sekali tanh ini di Tanami tumbuhan yang memerlukan banyak air ada juga padi gunung , biasanya tanah ini banyak  di daerah pegunungan. Sawah-sawah di pulau jawa sebelumnya dibajak, di garu dan kemudian di airi. Pada umumnya penanam padi di Jawa di airi hingga padi di panen, panen setiap 2 kali dalam setahun. Pada saat panen biasanya pemotong padi dibayar dengan cara bagi hasil padi, dengan jumlah yang berbeda untuk setiap daerah, sekitar 6-8 bagian tergantung luas lahan dan jumlah pekerja. Ketika musim panen tiba secra bersama-sama pemotong biasanya mendapat bagian seperempat-seperlima hasil panen.
Tanaman Jagung makanan pokok setelah padi oleh karena itu jagung ditanam di seluruh distrik  di Jawa terutama di Madura, dimana kultur tanahnya kering sehingg jagung bisa hidup tanpa air yang cukup banyak. Selain itu di Jawa makanan selain padi dan jagung adalah umbi-umbian. Pohon aren banyak tumbuh di Jawa biasanya phon aren bisa dibuat tepung atau sagu seperti daerah timur Indonesia, sari buah dapat di gunakan menjadi gula aren bias any berwarna coklat. Pohon kelapa juga banyak di temui di pulau Jawa.
Ada beberapa tanaman pengahasil minyak yaitu kacang Goring atau disebut kacang cina. Uantuk mengahasilkan minyak kacang di panen lalu dijemur kemudian di rebus lalu didinginkan selama 24 jam kenudian ditekan sekuatnya seperti memeras jeruk. Minyak biasanya digunakan untuk memebumbuhi nasi. Pohon jarak dipelihara seperti jagung dari pohon jarak menghasilkan
Tebu juga bayak terdapat dipulau jawa, tebu yang paling bagus adalah yang batang berwarna hijau dan tingginya 10 kaki. Masyrakat Jawa menikmanti tebu langsung dar batang tanpa di olah. Biasanya yang mengelola adalah orang Cina. Tanaman kopi di jawa dibawah oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad18 dan menjadi tanaman yang di monopoli oleh colonial Belanda. Pemerintah Belanda memerintahkan menanam Kopi secara paksa karena Kopi menjadi salah satu komoditi ekspor. Tanaman kopi di jawa biasanya di tanam di daerah peadalam atau pengunungan yang bertanah hitam. Kopi di jawa dalam penamannya membutuhkan pelindung dari sinar matahari yaitu pohon yang lebih tinggi biasanya pohon  dadap.  Khualitas kopi jawa terus bersaing dengan Negara ekspor kopi pada saat itu sehingga pemerinatah colonial  memonopoli hasil dari perkebunan kopi da Jawa.
Lada adalah komoditi  ekspor utama dari Jawa dan selama selan beberapa waktu di tanah di daerah lain seperti Batam dan Sumatera Selatan pada masa monopoli daerah tersebut emnjadi penhasil utama lada untuk Ekspor. System monopoli pada akhirnya tidak bertahan lama karena Nila bahan untuk pewarna ini juga terdapat di pulau jawa, nila juga di ekspor ke eropa, satu ikat harganya 8 sen. Selain itu kapas atau biasnya di sebut kapas Jawa akan tetapi kualitasnya masih kalh dengan kapas berasal dari India. Kaps banyak di tanam di daerah Banyumas di ekspor ke Bagelen, tegal dan bagian Mataram. Tembakau adalah bahan utama untuk rokok, banyak tumbuh di berbagai tempat akan tetapi untuk ekspor ditanam di daerh Banyumas  ,Madura dan Kedu produksi tembakau di Kedu menempati urutan ke 2 setelah beras. Gandum juga di tanam di pulau Jawa gandum di bawah oleh orang eropa. Gandum ditanam di daerah pedalaman yang di tanam pada bulan Mei dan di panen pada bulan Oktober. Biji gadun di jual 7 rupiah per ikul. Kentang ditanam di dtaran tinggi yang dekat dengan pemungkiman orang Eropa atau kebun orang Eropa.
KEBIJAKAN PERTANAHAN
Setelah mengetahui beberapa jenis tanaman yang di tanam oleh petani di Jawa yang penting harus diketahuai dalah system sewa tanah, hak penyewa dan tuan tanah. Pada situasi tertentu tingkatan keistimewaan petani dan penguasa pribumi di Jawa,  hamper sama dengan system ryot  dan zamidar yang ada di Bengali, akan tetapi di Jawa turut camapurnya penguasa yang berlebihan yang membedakan. Penyewa (ryot) berhak menetukan jenis tanaman yang akan ditanam di lahan yang di sewa. Tuan tanah (zamidar) sebagai penerima hasil sewa, merupakan penengah antara petani dan penguasa. Kewajibannya adalah membayar sejumlah pajak pada pemerintah. Penguasa sendiri, selain berhak menerima sewa, juga berhak mengantikan tuan tanah. Pemerintah India memilih system persewaan tanah yang dimiliki para tuan tanah  sebagai kebijakan yang tepat untuk mengelola tanah yang ada. Di Jawa beberapa tanha telah terasingkan, sementara di distrik Sunda tidak pernah terdengar sitem sewa tanah seperti yang ada di India. Oleh karena itu ketika Inggris berkuasa di Jawa  gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles ingin menerapakan system ini di Jawa.
Dari penyelidikan yang dilakukan pemerintah Inggris menyimpulkan tidak ada perjanjian antara penguasa local dan petani, dan pemerintah adlah satu-satuny pemilik tanah. Ada petani yang tidak pernah membayar sewa dan dari beberapa lahan uang sewanya dikuasai pemerintah local. Penguasa berhak medapatkan dari bagai hasil dari lahan yang disewakan, penguasa juga berhak menentukan upeti atau bagi hasil itu di berikan. Petani tidak pernah mendapat status apapun, bahkan sebagai penyewa tanah, karena system dispotik yang ada riadak memerlukan adanya perjanjian apapun antar penguasa dan pengelolanya. Walaupun demikian petani boleh mengarap tanah hingga  akhir hayatnya dan bisa di wariskan kepada anak-anaknya selam membayar kewajiban pada punguasanya. Biasanya yang mengumpulkan pajak adalah petinggi daerah setempat yang biasanya Bukul adalah lurah atau kepala desa. Hanya sebagian kecil saja yang masuk ke kas Negara biasanya digunakan untuk keprluan mengaji pengawai pemerintahan. Di distrik Sunda, terutama di daerah yang ditinggali penduduk yaitu daerah pengunungan dan hutan di wilayah barat pulau ini, daiantar mereka hak keemilikan tanah pribadi diakui. Karena masyarakat disini hanya megantungkan hany pada pertanian. Sistem sewa tanah di distrik Sunda berasal dari system yang berklku sebelumnya, dimana tanahnya tidak tejamah olah kesewenang-wenagan penguasa.  
            UU pemasukan tertanggal 11 februari 1814 yang di berikan oleh pemerintahan lokal kepada pegawai pemerintahan yang bertugas mengurusi tanah, yang menyebutkan “ Cara-cara persewaan tanah di seluruh pulai saat ini telah di mengerti, tidak ada lagi pihak perantara antara petabi dan pemerintah. Sehingga penguasa tanah sepenuhnya di kendalikan oleh penerintah dan tuan tanah. Beberapa tanah yang telah di berikan sebagai hadiah untuk kegiatan agama tidak akan diganggu  gugat.
            Para penguasa menikmati keuntungan dari tanahnya selama dia mampu menjaga. Orang biasa hanya mendapat waktu setahun, dan setelah itu digantikan oleh orang lain. Secra garis besar di Jawa ada tiga sistem sewa tanah yaitu di sunda , sewa tanha diberikan pad suata desa yang mengelola tanah terlantar dan pada seseorang berupa sawah yang digarapnya; di cirebin para Sultan dan pejabat lain mempunyai bagian tanah sendiri, demikian juag rakyat bias; di distri  timur berkeblikn dengan semuanya, tidak ada individu yang memiliki tanah. Tiap orang harus memetuhi aturan yang dibuat.apabila tidak mau menerima mereka harus bermigrasi ke tempat lain. Salah satu anggota komisi Belanda Knops mengatakan “ tidak ad penduduk Jawa yang mengangap bahwa pemilik tanah adalah bupati, akan tetapi mereka mengetahui tanah adalah milik pemerintah atau penguasa”.
            Petani pada masa itu jaminan keamanan yang tidak terjamin dalam mengolah tanah tersebut karena petani harus menerima setiap paksaan dan paksaan para penguasa menyangkut tanah tersebut melalui bukul atau lurah yang mengupulkan upeti dari petani. Bukul atau petani adalah kepala desa yang mempunyai kekuasan yang terbatas di desanya. Kepala desa seperti tuan tanah yang sebenarnya menurut petani. Tanah yang diawasinya berkisar abtar 6-7 Jung  atau dua kali lipat sama dengan 40-50 sampai 100arce hitungan Inggris, dibagikan ke penduduk sebesar 2-1/ 2 arce per orang.
Proposi produksi untuk membayar sewa bervariasi berdasrkan jenis tanah, produksi dan jumlah tenaga kerja petani. Di lahan sawah jumlah yang diminta penguasa adalah ½ atau ¼ bagian , tergatung baik tanahnya. Di tanah tegal jumlah sewanya yang dibayar bervariasi 1/3- 1/5 hasil panen. Stu jung sawah yang baik akan menghasilkan 40-50 amat seberat 1000 pound. Petani mengarap seperempat jung sawah yang baik, petani akan mendapat 10 amat atau 10 ribu pound padi dan membagi setengahnya dengan pemerintah. Selain sewa tanah petani juga di bebani dengan pajak lain. Pajak terbesar adalah pajak atas tanah yang besarnya tergatung pada jenis produksinya. Pajak rumah yang besar sekitar 1/6 atau 1/7 dollar untuk tiap rumah. Para petani baisanya membayar dengan hasil kebun mereka.
System sewa tanh tidak meliputi seluruh wilayah pualu Jawa, misalnya daerah –daerah Batavia tidak melaksakan system sewa tanah dikarenakan tanah-tanah di sekitar Batavia merupakan tanha milik swasta, di Pahariayangan juga tidak terkena danpak dari sistem  karena pemerinatah colonial keberatab menghapus system tanam paksa kopi. Kopi memberikan keuntungan besar bagi pemerintahan kolonial.
Pelaksanaan system sewa tanah yang di kembangkan Raffles  memiliki tiga aspek yaitu aspek yang peratam mengenai pemerintahan yang modern, pemerintahn yang tidak lansung di selengarakan oleh raja-raja atauou kepala-kepala tradisional menjadi pemerintahan secara lansung tanpa ada perantara. Raffles  membuat fungsi assiten residen yang mendapingi dan mengawasi para bupati dan pengawas yang pengahsilannya berasal dari tanah. Para bupati diberi gaji atas jasa pada pemeritahan Kolonial.
Selanjutnya aspek yang kedua yaitu pelaksanaan pemungutan sewa tanah. Selam pemeritahan VOC pajak yang berupa beras yang harus dibayar oleh rakyat kepad VOC dilakukan secara kolektif seluruh desa. VOC memberikan kebebasan secara dalam menetapkan jumlah yang harus di  bayar petani oleh sehingga para petinggi deas bisa sewenang-wenang dlam penarikan upeti.sehingga Raffles ingin menhapus system ini di Jawa dan menyamakan dengan di Bengali.
Aspek yang ke tiga adalah penanam tanaman perdangangan untuk di eksport. Akan tetapi dengan adanaya sewa tanah penanaman dan perdangan mengalami kegagalan.  Hal ini sebabkan kurangya pengalamanya petani dalam menjual tanaman di pasar bebas, sehingga penjualan di serahkan kepala desa. Banyak penipuan-penipuan yang dilakukan oleh kepala desa  sehingga pemerintah colonial ikut campur tangan lagi dan menetapkan system tanam paksa.









ANALISIS
Kelemahan
-          Buku HISTORI of JAVA ini berasal dari buku Diare Raffles sehingga menurut saya masih subyektif dari penulis.
-          Dan ketika mengukur sebuah takaran sangat sulit di pahami misal harga suatu barang belum ada takaran yang pasti sehingga pembaca belum bisa sepenuhnt memahami maksud buku ini.  
Kelebihan
-          Daengan membaca buku ini kita bisa mengetahui pebandingan antara daerah satu dengan daerah lainya missal Pulau jawa dengan Bangali India.
-          Dan kita menngetahui ke ingginan Raffles akan ekonomi liberal pada masa itu.
        

Minggu, 06 Februari 2011

tangan penguasa di bangku sekolah

Tangan Penguasa di Bangku Sekolah

Pada jaman kolonial pendidikan hanya diberikan kepada para penguasa serta kaum feodal. Pendidikan rakyat cukup diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar penguasa kolonial. Pendidikan diberikan hanya terbatas kepada rakyat di sekolah-sekolah kelas 2 atau ongko loro tidak diragukan mutunya. Sungguhpun standar yang dipakai untuk mengukur kualitas rakyat pada waktu itu diragukan karena sebagian besar rakyat tidak memperoleh pendidikan, namun demikian apa yang diperoleh pendidikan seperti pendidikan rakyat 3 tahun, pendidikan rakyat 5 tahun, telah menghasilkan pemimpin masyarakat bahkan menghasilkan pemimpin-pemimpin gerakan nasional.

Pendidikan kolonial untuk golongan bangsawan serta penguasa tidak diragukan lagi mutunya. Para pemimpin nasional kita kebanyakan memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah kolonial bahkan beberapa mahasiswa yang dapat melanjutkan di Universitas terkenal di Eropa. Dalam sejarah pendidikan kita dapat katakana bahwa intelegensi bangsa Indonesia tidak kalah dengan kaum penjajah. Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada waktu itu adalah kekurangan kesempatan yang sama yang diberikan kepada semua anak bangsa. Oleh sebab itu di dalam Undang Undang Dasar 1945 dinyatakan dengan tegas bahwa pemerintah akan menyusun suatu sistem pendidikaan nasional untuk rakyat, untuk semua bangsa. Pendidikan masa kolonial memang bertujuan untuk melaksanakn politik etis akan tetapi dari segi kualitas patut di perhitungkan karena berhasil “meluluskan” Faouding Father bangsa Indonesia seperti Soekarno,Moch Hatta, Sahril dan lain-lain. Saya (penulis) pernah belajar bahasa Belanda ke seoarang banagawan masa kalonial saya biasanya memanggil Mevrou Ayu atau nyonya Ayu mungkin sekarang berumur 80an beliau bercerita bahawa saat beliau sekolah mereka di ajarkan dengan sistem Belanda yang disiplin dan tertata. Selain itu pendidikan moral juga di tekan pada masa colonial sehingga membetuk pribadi-pribadi yang disiplin dan berintergeritas tinggi.

B. Era Orde Lama

Masa revolusi pendidikan nasional mulai meletakkan dasar-dasarnya. Pada masa revolusi sangat terasa serba terbatas, tetapi bangsa kita dapat melaksanakan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945. Kita dapat merumuskan Undang Undang Pendidikan No. 4/1950 junto no. 12/ 1954. Kita dapat membangun sistem pendidikan yang tidak kalah mutunya. Para pengajar, pelajar melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya walaupun serba terbatas. Dengan segala keterbatasan itu memupuk pemimpin-pemimpin nasional yang dapat mengatasi masa pancaroba seperti rongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sayang sekali pada akhir era ini pendidikan kemudian dimasuki oleh politik praktis atau mulai dijadikan kendaraan politik. Pada masa itu dimulai pendidikan indoktrinasi yaitu menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan

Pada Orde Lama sudah mulai diadakan ujian-ujian negara yang terpusat dengan sistem kolonial yang serba ketat tetapi tetap jujur dan mempertahankan kualitas. Hal ini didukung karena jumlah sekolah belum begitu banyak dan guru-guru yang ditempa pada zaman kolonial. Pada zaman itu siswa dan guru dituntut disiplin tinggi. Guru belum berorientasi kepada yang material tetapi kepada yang ideal. Citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang diciptakaan era Orde Baru sebenarnya telah dikembangkan pada Orde Lama.

Kebijakan yang diambil pada Orde Lama dalam bidang pendidikan tinggi yaitu mendirikan universitas di setiap provinsi. Kebijakan ini bertujuan untuk lebih memberikan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Pada waktu itu pendidikan tinggi yang bermutu terdapat di Pulau Jawa seperti UI, IPB, ITB, Gajah Mada, dan UNAIR, sedangkan di provinsi-provinsi karena kurangnya persiapan dosen dan keterbatasaan sarana dan prasarana mengakibatkan kemerosotan mutu pendidikan tinggi mulai terjadi.

Dalam era ini dikenal sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya INPRES Pendidikan Dasar. Tetapi sayang sekali INPRES Pendidikan Dasar belum ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas tetapi baru kuantitas. Selain itu sistem ujian negara (EBTANAS) telah berubah menjadi bumerang yaitu penentuan kelulusan siswa menurut rumus-rumus tertentu. Akhirnya di tiap-tiap lembaga pendidikan sekolah berusaha untuk meluluskan siswanya 100%. Hal ini berakibat pada suatu pembohongan publik dan dirinya sendiri dalam masyarakat. Oleh sebab itu era Orde Baru pendidikan telah dijadikan sebagai indikator palsu mengenai keberhasilan pemerintah dalam pembangunan.

Dalam era pembangunan nasional selama lima REPELITA yang ditekankan ialah pembangunan ekonomi sebagai salah satu dari TRILOGI pembangunan. Maka kemerosotan pendidikan nasional telah berlangsung. Dari hasil manipulasi ujian nasional sekolah dasar kemudian meningkat ke sekolah menengah dan kemudian meningkat ke sekolah menengah tingkat atas dan selanjutnya berpengaruh pada mutu pendidikan tinggi. Walaupun pada waktu itu pendidikan tinggi memiliki otonomi dengan mengadakan ujian masuk melalui UMPTN, tetapi hal tersebut tidak menolong. Pada akhirnya hasil EBTANAS juga dijadikan indikator penerimaan di perguruan tinggi. Untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi maka pendidikan tinggi negeri mulai mengadakan penelusuran minat dari para siswa SMA yang berpotensi. Cara tersebut kemudian diikuti oleh pendidikan tinggi lainnya.

Di samping perkembangan pendidikan tinggi dengan usahanya untuk mempertahankan dan meningkatkan mutunya pada masa Orde Baru muncul gejala yaitu tumbuhnya perguruan tinggi swasta dalam berbagai bentuk. Hal ini berdampak pada mutu perguruan semakin menurun.

Melihat contoh di atas bagaimana peran pemerintah dalam pendidikan yang muaranya kepada pembentukan jatidiri bangsa Indonesia, tentu kita tidak akan memungkiri lulusan luar negeri yang mengeyam kualitas pendidikan yang berbeda dengan lulusan dalam negeri. Disini peran pemerintah sangat penting karena para lulusan luar negeri atau dalam negeri yang akan membangun bangsa Indonesia. Pemerintah juga jangan terlalu intervensi dalam pendidikan missal menanamkan hanya satu doktrin dalam pendidikan yang pada akhirnya mematikan kreativitas dunia pendidikan, contoh sederhana yang beberapa tahun terakir menajadi bahan perbincangan di kalangan pendidikan nasional Indonesia yaitu tentang kurikulum sejarah yang mencantumkan kata-kata G30 S tanpa mencantumkan kata PKI hal ini sangat mengekan kebebasan dalam dinia pendidikan yana seharusnya diketahui siswa agar mencari kebenaran yang sebenarnya tanpa campur tangan pemerintah. Hal ini seakan pemerintah mengajarkan kepada generasi selanjutnya untuk mendendam dan membenci kesalahan bangsanya sendiri tanpa ada untuk menyari kebenaran yang sebenarnya.

Di tingkatan yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi pemerintah menjalankan UU BHP (undang-undang badan hukum pendidikan) yaitu perguruan tinggi negeri di haruskan mempunyai usaha yang memungkinkan suatu PTN mendapatkan “penghasilan” di luar SPP dari mahasiswa. UU BHP sebenaranya baik akan dalam prakteknya perguruan tinggi melasanakan system kapitalis dengan dmencari keuntungan sebesar-besarnya dari mahasiswa. Sungguh ironi sistem pendidikan di Indonesia pemeritah yang seharusnya mempunyai kewajiban mencerdaskan Bangsa malah menjual kewajiban itu sendiri kepada penaguasa dunia yang bernama kapitalis. Perlahan namum pasti identitas bangsa Indonesia dengan Kerakyatan dan Gotong Royong akan punah dan di gantikan oleh Bangsa yang individual dikarenakan system pendidikan yang mengharuskanya. Mengutip salah satu judul buku sastra “Salah Asuhan”. Semoga pendidikan di masa yang akan datang di kelola oleh tangan yang perhatian pada rakyat kecil dan menjadikan Soekarno baru yang lebih nasionalis tanpa campur tangan bangsa lain dam menjadi bangsa yang mepunyai kepercayaan diri yang kuat.